Langsung ke konten utama

Persiapan Menyusui

Upaya keberhasilan memberi ASI seyogianya sudah dimulai sejak masa kehamilan, yang terus dilanjutkan sampai masa menyusui itu sendiri. Pada masa kehamilan, sebaiknya payudara sudah menjadi perhatian Anda. Hal ini untuk melihat apakah bentuk puting susu Anda kurang menguntungkan untuk kegiatan menyusui. Misalnya, apakah puting susu berbentuk datar atau masuk ke dalam. Puting susu demikian sebenarnya bukanlah halangan bagi kita untuk dapat menyusui dengan baik. Dengan mengetahuinya lebih awal, kita mempunyai waktu untuk mengusahakannya agar puting bisa menonjol keluar, sehingga bayi dapat menghisap puting susu lebih mudah sewaktu menyusui.

Sebaiknya, cucilah dahulu kedua tangan Anda sebelum melakukan pemijatan. Duduklah dengan tegak, kemudian lumuri kedua telapak tangan dengan krim atau minyak bayi sebelum memulai pengurutan.

Caranya, gunakan krim lembut, doronglah puting susu secara perlahan ke arah luar dengan menggunakan kedua ibu jari tangan Anda. Setelah itu, masih dengan ibu jari tariklah bagian dasar puting susu ke arah samping kiri dan kanan, serta arah atas dan bawah (lihat gambar 1).

Kalaupun tidak ada masalah, puting susu tetap harus disiapkan. Salah satu caranya adalah dengan rajin menggosok puting susu secara perlahan dengan menggunakan handuk lembut setiap kali selesai mandi. Anda tidak perlu mencucinya dengan sabun apalagi menggosoknya keras-keras, sebab kelenjar yang ada di sekitar puting susu dengan sendirinya akan mengeluarkan cairan untuk menjaga kebersihannya. Selain itu, perlakuan yang kasar akan membuat putting susu lecet bahkan luka.

Dengan menggunakan krim yang lembut, pijatlah payudara serta puting susu secara teratur. Letakkan ibu jari serta telunjuk pada dasar puting susu, kemudian dengan hati-hati putarlah ke arah kiri serta kanan (lihat gambar 2).

Gerakan memijat lainnya adalah dengan meletakkan jari-jari serta ibu jari di dada, kemudian lakukan gerakan memutar ke seluruh payudara, dimulai dari arah atas dan berakhir dekat bagian areola atau daerah kehitaman di sekitar puting susu (lihat gambar 3).

Pada dasarnya, gerakan pemijatan ini berguna untuk menghindari timbulnya pembengkakan dan peradangan payudara saat menyusui. Selain itu, pengurutan juga bermanfaat untuk merangsang kelenjar-kelenjar susu agar kelak lebih lancar mengalirkan air susu.

Selama hamil, usahakan selalu memilih dan menggunakan BH yang baik, yang dapat menyangga seluruh bagian bawah payudara dan tidak terlalu ketat sehingga menekan payudara. Hindari juga BH yang terbuat dari bahan nilon serta yang memakai busa. Lebih baik Anda memilih BH yang terbuat dari katun karena lebih sejuk dan nyaman dipakai. Sebaiknya, saat tidur malam tidak menggunakan BH, untuk mengistirahatkan otot-otot payudara.

Ada satu hal yang patut Anda ingat. Yaitu, besarnya payudara tidak bisa menjadi patokan banyaknya air susu yang bakal dihasilkan. Begitu pula tidak ada jaminan bahwa besarnya payudara menandakan berhasil tidaknya Anda menyusui bayi kelak.

Sebaiknya menjelang waktu menyusui, Anda minum dahulu, atau sediakan segelas air di dekat Anda. Biasanya setelah menyusui, Anda akan merasa haus. Jangan sampai rasa haus Anda mengganggu keni’matan bayi yang sedang menyusui.

Usahakan setiap kali selesai menyusui, kedua payudara ‘terasa’ kosong. Sebenarnya, payudara memang tidak pernah benar-benar kosong. Sebab, begitu ASI habis dihisap, maka payudara segera akan memproduksi kembali. Semakin banyak yang dikeluarkan, semakin banyak pula yang diproduksi. Pada dasarnya, persediaan ASI diatur oleh suatu mekanisme yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Jadi, kalau bayi jarang menyusu, maka produksi susu pun berkurang. Karena itu, yakinlah, bahwa makin sering payudara dihisap bayi, makin banyak ASI berproduksi. Perlu juga Anda ketahui bahwa payudara Anda berubah karena kehamilan Anda, bukan karena menyusui.



Sumber: Ayahbunda Edisi Khusus. 100 Resep untuk Ibu Hamil & Menyusui. 1997



Postingan populer dari blog ini

10 Masalah Penting Seputar Safarnya Wanita

10 Masalah Penting Seputar Safarnya Wanita Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: لا يَحِلُّ لامرَأَةٍ تُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَومِ الآخِرِ أَن تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَومٍ وَلَيلَةٍ لَيسَ مَعَهَا حُرمَةٌ “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia mengadakan perjalanan sehari semalam tanpa disertai mahram bersamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1088 dan Muslim no. 2355) Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: لا تُسَافِر المَرأَةُ إِلا مَعَ ذِي مَحرَمٍ، وَلا يَدخُلُ عَلَيهَا رَجُلٌ إِلا وَمَعَهَا مَحرَمٌ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أُرِيدُ أَن أَخرُجَ في جَيشِ كَذَا وَكَذَا، وَامرَأَتِي تُرِيدُ الحَجَّ؟ فَقَالَ: اخرُج مَعَهَا “Janganlah wanita melakukan safar kecuali dengan mahramnya dan tidak boleh seorang lelakipun yang masuk menemuinya kecuali ada mahram bersamanya.” Maka ada seorang lelaki yang bertanya, “...

APABILA IBU HAMIL DAN MENYUSUI BERPUASA

APABILA IBU HAMIL DAN MENYUSUI BERPUASA Allah telah mewajibkan shaum Ramadhan atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat wajib puasa. Namun pada golongan tertentu, Allah juga telah memberikan keringanan (rukshah) untuk boleh tidak berpuasa dan mewajibkan qadha atas mereka pada waktu lain ataupun membayar fidyah. Allah berfirman, فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ "Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin". [Al Baqarah:184]. Sebagian ulama berpendapat, ibu hamil atau menyusui termasuk kategori golongan orang yang diberi rukhshah, berdasarkan keumuman ayat di atas.

Membayar Hutang Puasa (Qadha') Sesegera Mungkin

Penulis : Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid 1. Qadha' (Penunaian, red) tidak wajib segera dilakukan Ketahuilah wahai sauadaraku se-Islam -mudah-mudahan Allah memberikan pemahaman agama kepada kita- bahwasanya mengqdha' puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan segera, kewajibannya dengan jangka waktu yang luas berdasarkan satu riwayat dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'anha (yang artinya) : “Aku punya hutang puasa Ramadhan dan tiak bisa mengqadha'nya kecuali di bulan Sya'ban" [Hadits Riwayat Bukhari 4/166, Muslim 1146, Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah hal.422. setelah membawakan hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya beliau (yakni Aisyah) tidak mampu dan tidak dapat mengqadha' pada bulan sebelum Sya'ban, dan hal ini menunjukkan bahwa beliau kalaulah mampu niscaya dia tidak akan mengahhirkan qadha' (sampai pada ucapan Syaikh) maka menjadi tersamar atasnya bahwa ketidakmampuan Ai...