Senin, 09 November 2009

MYOMA

Di bidang kedokteran, Ada 3 penyebab yang membuat wanita sulit punya anak. Pertama myoma (miom), kedua kista, dan ketiga endometriosis. Dalam pembahasan ini, kista dan endometriosis tidak akan dibahas dahulu, tetapi untuk artikel selanjutnya. Insya Alloh

MYOMA

Myoma adalah suatu tumor jinak yang berasal dari otot rahim pada rahim yang paling sering terjadi, diduga 20 % wanita usia 35 tahun menderita myoma walaupun tidak bergejala, karena itu lengkapnya disebut myoma uteri untuk membedakannya dengan myoma dari jaringan otot yang lain.

Ada tiga macam dilihat dari tempat tumbuhnya yaitu :


1.Myoma sub serosa, tumbuh keluar dinding rahim, bahkan bisa mempunyai tangkai

2.Myoma intra mural, tumbuh di dalam dinding rahim

3.Myoma sub mucosa, tumbuh ke dalam rongga rahim, bisa juga bertangkai bahkan sampai keluar kejalan lahir (disebut myom terlahir = myom geburt)

Myoma uteri tidak pernah terjadi setelah menopause, bahkan yang telah adapun biasanya mengecil bila mendekati masa menopause. Sebab terjadinya myoma uteri belum jelas, diduga asalnya dari sel sel otot rahim yang belum matang. Juga ada dugaan hormon estrogen berperan pada terjadinya myoma ini. Terbentuknya myoma berawal dari gangguan fungsi syaraf yang disebabkan gangguan hormon estrogen serta emosi yang tak stabil. Gangguan fungsi syaraf ini selanjutnya akan menyebabkan kesalahan bentuk otot di dalam rahim atau uterus. Myoma merupakan tumor jinak dari miometrium (otot rahim) yang melalui pemeriksaan USG terlihat seperti gumpalan. Diameternya bisa beberapa cm, namun bisa juga mencapai 5 kg. Myoma biasanya terdeteksi ketika seorang wanita ke ahli kebidanan dan kandungan dengan keluhan sulit memiliki anak. Dan tak jarang, gumpalan inilah yang menjadi biang keladinya. Dalam istilah medis myoma disebut fibriod, yang sebenarnya tumor jinak. Beberapa ahli mengatakan bahwa myoma juga terkait faktor bakat, yang kemudian dipicu oleh rangsangan hormon, makanan kaya lemak, kelebihan berat badan. Rangsangan inilah yang memicu pertumbuhan myoma. Infeksi dan jamur di dalam rahim juga memungkinkan myoma tumbuh kembali meskipun telah diangkat (operasi).

Kebersihan organ intim serta menjaga keseimbangan emosi merupakan kata kunci mencegah myoma tumbuh kembali. Fakta tentang myoma yang tergolong tumor jinak menyerang 20% wanita usia reproduktif. Mulanya berupa gumpalan kecil, lama kelamaan membesar dan mengganggu rahim dan kehamilan. Mulai muncul pada wanita yang telah mendapat menstruasi. Sebagian besar wanita tidak merasakan adanya myoma, karena pertumbuhan myoma tergolong lamban (minimal butuh waktu 8 tahun). Karena sulit terdeteksi, kebanyakan myoma ditemukan secara kebetulan saat USG karena kehamilan atau terasa ada gangguan.

GEJALA MYOMA

Myoma uteri bukanlah kanker, tetapi bisa menimbulkan banyak masalah, antara lain kemandulan, perdarahan melalui jalan lahir, akibat-akibat mekanis karena penekanan tumor terhadap jaringan sekitarnya seperti usus, kandung kencing. Sebagian penyakit ini ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan panggul rutin. Gejala yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor, namun yang paling sering ditemukan adalah:

  • Perdarahan yang banyak dan lama selama masa haid atau pun di luar masa haid.
  • Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkal tumor, serta adanya infeksi di dalam rahim.
  • Penekanan pada organ di sekitar tumor seperti kandung kemih, ureter, rektum atau organ rongga panggul lainnya, menimbulkan gangguan buang air besar dan buang air kecil, pelebaran pembuluh darah vena dalam panggul, gangguan ginjal karena pembengkakan tangkai tumor.
  • Gangguan sulit hamil karena terjadi penekanan pada saluran indung telur.
  • Pada bagian bawah perut dekat rahim terasa kenyal.

Sering kali penderita merasa nyeri akibat miom mengalami degenerasi atau kontraksi uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Pasangan suami istri sering kali sulit untuk punya anak (infertilitas) disebabkan gangguan pada tuba, gangguan implantasi pada endometrium, penyumbatan, dan sebagainya. Myoma Uteri dapat mengganggu kehamilan dengan dampak berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan keguguran.

Sebaliknya, kehamilan juga bisa berdampak memperparah myoma uteri. Saat hamil, myoma uteri cenderung membesar, dan sering juga terjadi perubahan dari tumor yang menyebabkan perdarahan dalam tumor sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, selama kehamilan, tangkai tumor bisa terputar. Karena itulah kerapkali harus diambil tindakan pengobatan terhadap myoma tersebut.

BAGAIMANA CARA PENGOBATAN ATAU PENANGANNYA

Bila tumor berukuran kecil dan tidak membesar, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali, pengecilan tumor sementara dengan obat-obatan GnRH analog, myoma memiliki lapisan kapsul yang tegas, dapat dipisahkan/dikupas dari massa tumornya. Cara pengobatan hormonal berdasarkan pengetahuan bahwa myoma sangat dipengaruhi oleh hormon wanita yaitu hormon estrogen, karena itu dipergunakan obat-obat yang bersifat anti estrogen dan yang paling mutakhir adalah GnRh analog yang sayangnya harganya mahal. Tetapi perlu diingat bahwa terapi hormonal tidak menghilangkan myoma tetapi hanya mengecilkan ukuran myoma tersebut. Jadi keuntungan terapi hormonal adalah mempermudah tindakan operasi khususnya bila dipilih cara laparoskopi . Bila sudah tiba saatnya maka myoma harus dilakukan operasi.

Masalahnya, kapan saatnya untuk melakukan operasi pengangkatan myoma? Hal ini diputuskan setelah mempertimbangkan faktor-faktor: usia pasien, fungsi reproduksinya, keluhan dan akibat yang ditimbulkan oleh myoma tersebut dan tentu saja keadaan sosio-ekonomi pasien untuk menentukan pilihan cara pengobatan, tentu juga dipertimbangkan kemampuan operator dan sarana yang dimiliki oleh sang operator.

Jika terjadi komplikasi dan timbul perdarahan, perlu diberikan transfusi darah dan obat penghilang rasa nyeri. Secara garis besar, bila ukuran myoma cukup besar (biasanya patokan yangg dipakai adalah lebih besar dari kehamilan 12 minggu), keluhan dan gejala yang ditimbulkan sudah mengganggu bahkan membahayakan (yang paling sering adalah perdarahan per vagina); maka sebaiknya diputuskan untuk melakukan operasi pengangkatan myoma. Bila yang dibuang hanya jaringan myoma saja disebut teknik myomectomy, bila dibuang seluruh rahim disebut hysterectomy, jika tidak ada rencana hamil lagi; biasanya myomectomy dipilih bila fungsi reproduksi masih diperlukan pada usia reproduksi/masih rencana hamil walaupun tidak semua myom bisa dilakukan myomectomy saja dan terpaksa harus dilakukan total hysterectomy.

Cara operasi bisa dengan :

1. Teknik konvensional laparotomi (membuka perut)

2. Bisa melalui vagina (biasanya untuk jenis submucosa)

3. Teknik laparoskopi, biasanya dikombinasikan dengan approach per vagina LAVH (Laparocopy Assisted Vaginal Hyterectomy); cara ini membutuhkan peralatan khusus yang mahal dan keterampilan sang operator dalam teknik bedah endoskopi, tetapi menguntungkan pasien karena luka operasi yang kecil dan waktu rawat yang singkat.


KEHAMILAN

Myoma mungkin menurunkan kesuburan tetapi tidak jarang kita melihat adanya kehamilan dengan myoma bahkan myoma yang besar disusul dengan persalinan yang normal. Maka, apabila tidak ada sebab sebab ketidaksuburan lainnya, dapat dilakukan myomectomi (pengangkatan myoma) untuk memperbesar kemungkinan kehamilan angka kehamilan setelah myomectomi berkisar 25-40 %. Pengaruh myoma uteri pada kehamilan, kemungkinan abortus menjadi besar, dapat menimbulkan kelainan letak janin, dapat pula menghalangi jalan lahir atau dapat menimbulkan perdarahan setelah melahirkan.

Ikuti saja saran dokter Anda, untuk dipantau perkembangannya selama 3 bulan kedepan, karena tindakan selanjutnya bergantung perkembangan myoma itu sendiri. Kemungkinan hamil ketika myoma masih ada, bisa saja terjadi. Bagaimanapun perkembangannya, janganlah myoma menjadi kekhawatiran yang berlebihan, karena kecemasan akan mempengaruhi sistem reproduksi , sehingga kehamilan yang diharapkan akan sulit terjadi.

Catatan pribadi: Ana sendiri termasuk yang sudah 2 kali di vonis terkena myoma dan 1 kali kista, tetapi Alhamdulillah, hingga artikel ini ana tulis ulang dari berbagai sumber, ana bisa hamil, meski myoma kembali muncul pada kehamilan ana ini. Tetapi menurut dokter ukurannya masih relatif kecil, Insya Alloh bisa hilang sejalan dengan proses kehamilan dan melahirkan nanti. Keluarga ana yang lain pun memiliki riwayat myoma, Alhamdulillah mereka bisa memiliki keturunan.

1 komentar: